oleh

Jangkau Suku Talang Mamak hingga Pesisir, IYES Foundation Perkuat Sinergi Pendidikan di Riau

RIAU.SIN.CO.ID – IYES Foundation melalu program unggulannya, IYES Mengajar, memperkuat ekosistem dan akses pendidikan di wilayah pelosok Provinsi Riau melalui pendekatan kolaboratif berbasis kemasyarakatan hingga November 2026. Langkah ini mencakup renovasi fasilitas sekolah, peningkatan kapasitas tenaga pengajar, pendampingan siswa, serta pelibatan warga lokal di sepuluh sekolah yang tersebar pada lima kabupaten.

Inisiatif yang dicetuskan oleh pemuda asal Kota Pekanbaru, Hari Novar, tersebut lahir dari kesadaran bahwa persoalan belajar di daerah terpencil membutuhkan perbaikan sistem secara menyeluruh. Keterbatasan sarana fisik dan ruang belajar di pelosok menuntut kehadiran gerakan yang tidak hanya berfokus pada kegiatan mengajar temporer.

“Anak-anak membutuhkan lingkungan belajar yang layak, guru yang memiliki kapasitas untuk mendampingi proses pembelajaran, serta masyarakat yang memiliki kepedulian dan kemampuan untuk menjaga keberlanjutan pendidikan,” ujar Pendiri IYES Foundation, Hari Novar, Selasa (3/11/2026).

Baca Juga  Prof. KH Husnan Bey Fananie : Ulama Intelektual yang Siap Mengembalikan Kiblat Politik Umat Islam ke PPP

Sejak memulai langkah perdana pada 2015, gerakan kerelawanan ini terus melangkah menembus batas-batas geografis dan keterbatasan fasilitas di bentang alam Riau. Selama kurun waktu satu dekade, program ini telah menuntaskan sepuluh angkatan kegiatan dengan menghimpun ratusan energi muda.

“Dalam kurun waktu tersebut, program ini telah melaksanakan sepuluh angkatan kegiatan pada periode 2015-2025 dengan melibatkan sekitar 167 relawan dan berkolaborasi dengan sekitar 63 mitra,” ungkap Hari Novar merinci perjalanan pergerakannya.

Rekapitulasi capaian mencatat program ini telah menjangkau sembilan sekolah dasar dan satu sekolah menengah atas di lima kabupaten. Kehadiran para relawan telah memberikan dampak langsung maupun tidak langsung kepada sekitar 3.100 penerima manfaat di kawasan tersebut.

“Perjalanan ini memperlihatkan bahwa gerakan kerelawanan anak muda dapat berkembang menjadi upaya kolaboratif yang lebih luas. Tidak hanya melibatkan relawan, tetapi juga guru, sekolah, masyarakat, pemerintah, dan berbagai mitra yang memiliki perhatian terhadap masa depan pendidikan,” sebutnya.

Baca Juga  Gandeng Sumitomo, Progres PLTA Kayan Signifikan

Rekam jejak perjuangan memperlihatkan getirnya medan saat relawan IYES Mengajar #3 menjangkau komunitas Suku Talang Mamak yang belum teraliri listrik pada 2017. Guna menyapa anak-anak di pedalaman tersebut, rombongan harus mengarungi arus sungai menggunakan perahu selama empat jam perjalanan.

“Pengalaman di lapangan menjadi pengingat bahwa setiap wilayah memiliki tantangan pendidikan yang berbeda. Karena itu, pendekatan program tidak bisa diseragamkan, melainkan perlu memahami kondisi geografis, sosial, dan kebutuhan masyarakat setempat,” tutur Hari Novar.

Guna menjaga keberlanjutan dampak, organisasi masyarakat sipil ini membangun jejaring kemitraan bersama Pemerintah Provinsi Riau melalui Bappeda dan Diskominfotik Riau. Sinergi ini ditujukan untuk menyelaraskan inisiatif swadaya kepemudaan dengan garis kebijakan pembangunan daerah.

“Keterlibatan pemerintah menjadi bagian penting dalam memperkuat sinergi, membuka ruang koordinasi, serta mendorong agar inisiatif kepemudaan dan gerakan pendidikan dapat terhubung dengan agenda pembangunan daerah,” jelasnya.

Baca Juga  Subsay, Kampung di Dataran Warmare yang Layak Dimekarkan

“Pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah atau satu organisasi, melainkan tanggung jawab bersama. Organisasi masyarakat sipil, pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi,” tambahnya mengenai prinsip kolaborasi lintas sektor.

Menatap langkah ke depan, IYES Foundation dijadwalkan menggelar IYES Mengajar angkatan ke-11 di Desa Concong Dalam, Kabupaten Indragiri Hilir, pada 8–15 November 2026. Aksi ini menjadi tonggak baru dalam merawat nyala asa pendidikan bagi anak-anak di tepian pesisir Riau.

“Sebab, keterbatasan geografis seharusnya tidak menjadi batas bagi anak-anak untuk memiliki cita-cita dan memperoleh pendidikan yang lebih baik,” pungkas Hari Novar menautkan harapan bagi masa depan generasi muda di pelosok Riau.

 

News Feed