RIAU.SIN.CO.ID – Penguatan peran keluarga dan lingkungan menjadi penting sebagai pembentuk karakter serta menjaga perkembangan generasi muda di tengah berbagai tantangan sosial. Pemerintah Provinsi Riau mendorong orang tua dan masyarakat meningkatkan kepedulian dalam mendampingi anak sejak usia dini.
Sekretaris Daerah (Sekda) Riau Syahrial Abdi mengatakan, persoalan perilaku yang menjadi perhatian masyarakat perlu dihadapi dengan sikap empati dan kepedulian. Menurutnya, keluarga memiliki posisi penting dalam memberikan pendidikan dan pendampingan yang tepat kepada anak.
“Kalau kita melihat penyimpangan perilaku seperti LGBT, maka kembali kepada pentingnya sikap saling berempati dan peduli terhadap apa yang terjadi di lingkungan kita. Sebagai orang tua, kita harus memiliki sikap yang tepat dalam mendidik anak,” kata Sekda Syahrial Abdi di Halaman Kantor Gubernur Riau, Rabu (28/10/2026).
Dijelaskan, kepedulian tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua. Lingkungan sekitar dan pergaulan sehari-hari juga memiliki peran dalam menciptakan ruang sosial yang sehat bagi pertumbuhan generasi muda.
“Sebagai bagian dari pertemanan dan pergaulan sehari-hari, kita juga harus mulai peduli untuk menyikapi berbagai hal yang tidak sesuai dengan kaidah umum. Semua ini bisa ditangani dan diselesaikan, mudah-mudahan literasi pemahaman kita semakin kuat, serta disosialisasikan secara masif kepada masyarakat bahwa ada perilaku-perilaku menyimpang yang harus menjadi perhatian bersama,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya penguatan pemahaman keluarga melalui pendidikan, termasuk nilai-nilai keagamaan yang dianut masing-masing keluarga. Menurutnya, pembinaan tersebut perlu dimulai dari lingkungan terdekat agar orang tua dapat memahami perkembangan anak sekaligus memberikan pendampingan secara proporsional.
“Penguatan pemahaman terutama melalui ilmu keagamaan, harus dimulai dari dalam keluarga dan mendapat perhatian penuh dari lingkungan terdekat. LGBT ini sering kali juga terindikasi akibat situasi lingkungan,” ungkapnya.
Diterangkan, kondisi lingkungan sosial dan pengalaman yang dialami anak sejak usia dini perlu mendapat perhatian. Ia menyebut, persoalan perundungan sebagai salah satu hal yang harus dicegah karena dapat memberikan dampak terhadap perkembangan psikologis anak.
“Dalam diskusi kita, perilaku menyimpang ini terindikasi akibat dampak dari kasus bullying sejak kecil atau di lingkungan sekolah. Di mana anak tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari teman-temannya lalu mengalihkan perilakunya ke arah yang menyimpang,” terangnya.
Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya menciptakan lingkungan yang aman bagi anak untuk tumbuh dan menyampaikan persoalan yang dihadapinya. Komunikasi yang terbuka dinilai dapat membantu orang tua maupun tenaga pendidik mengenali ketika seorang anak membutuhkan perhatian dan pendampingan.
Dituturkan, kepedulian terhadap anak harus dilakukan secara berkelanjutan dan tidak menunggu hingga persoalan berkembang menjadi lebih besar. Orang tua juga perlu membangun hubungan yang memungkinkan anak merasa didengar, dihargai dan mendapatkan dukungan ketika menghadapi persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
“Semakin peduli kita terhadap apa yang terjadi di sekitar mulai dari keluarga dan anak-anak kita, maka kita akan semakin mampu memitigasi dan mencegah timbulnya perilaku-perilaku tersebut.” pungkasnya.











